Madzhab Imam Malik
Assalamualaikum wr.wb
Kali ini saya membuat artikel yang berjudul Madzhabnya Imam Malik. Beliau mulai memberikan fatwa-fatwanya sesudah guru gurunya menyatakan bahwa Malik telah berhak untuk berfatwa. Beliau mengatakan: “Saya tidak duduk untuk berfatwa sehingga tujuh puluh guru dari ahli ilmu telah mengakui bahwa saya telah berhak menempati kedudukan itu”.
Assalamualaikum wr.wb
Kali ini saya membuat artikel yang berjudul Madzhabnya Imam Malik. Beliau mulai memberikan fatwa-fatwanya sesudah guru gurunya menyatakan bahwa Malik telah berhak untuk berfatwa. Beliau mengatakan: “Saya tidak duduk untuk berfatwa sehingga tujuh puluh guru dari ahli ilmu telah mengakui bahwa saya telah berhak menempati kedudukan itu”.
Para ahli ilmu telah sepakat bahwa beliau adalah IMAM dalam Hadist dan terpercaya riwayatnya. “Majlis Malik adalah majlis yang sangat terhormat dan penuh sopan santun. Ia adalah seorang bangsawan yang sangat berwibawa, dalam majlisnya tak ada kegaduhan sedikitpun, suasananya tenang tak ada suara keras. Apabila ada anggota majlis yang mengajukan pertanyaan, maka dijawabnya pertanyaan tadi dengan sangat hormat dan tidak ditanyakan darimana anda berpendapat demikian” Demikian komentar Al Waqidi. Imam Malik mempunyai seorang penulis yang selalu menyalin dan selalu mendiktekan fatwa Imam Malik kepada anggota majlis yang menghadirinya. Di dalam berfatwa beliau secara tertib berpegang/berdalil pada:
a. Alqur’an
Beliau dahilikan nasnya, kemudian dharirnya dan baru mafhumnya.
b. Sesudah itu beralih pada Hadist yang dianggap shahih. Dalam hal ini beliau berpegang pada ahli-ahli Hadist terkemuka dari Madinah/Hijaz. Beliau menaruh perhatian yang sangat besar terhadap sesuatu yang telah berlaku di kalangan ulama Madinah, bahkan mendahulukannnya dari pada Hadist Ahad. Alasannya ialah bahwa mengikuti amal angkatan yang mendahuluinya dimana mereka itu mengikuti amal para sahabat adalah lebih kuat daripada Hadist Ahad. Pendapat ini tidak disetujui oleh banyak ahli ilmu, termasuk Al Laits bin Sa’id, Asy Syafi’i dan Abu Yusuf.
c. Ijma’.
d. Qiyas.
Beliau menggunakan qiyas apabila tidak ada Alqur’an, Hadist dan Ijma’. Dalam hal ini, kalau Imam Abu Hanifah terkenal istihsannya, maka Imam Malik terkenal dengan maslahatul mursalahnya atau yang sering disebut dengan istishlah. Menetapkan hukum berdasar mursalah adalah penetapan hukum yang berpedoman pada kaidah-kaidah umum untuk memperoleh manfaat yang dikehendaki/dituju oleh syara’. Maslahatul mursalah ini baru dapat diterapkan oleh Imam Malik apabila memenuhi syarat sbb:
1. Tidak bertentangan dengan nash atau dalil yang lain.
2. Dapat menarik manfaat dan menolak madlarat.
3. Tidak dalam soal ibadah.
Wassalamualaikum wr.wb
Silahkan Kunjungi Artikel Tentang Kisah IMAM MALIK sebagai penyusun pertama Kitab Hadist al Muawaththa, Semoga Bermanfaat ...
Kunjungi terus Website InfoUhuy.blogspot.com - Gudang Informasi Terkini Tentang Religi Islami.
a. Alqur’an
Beliau dahilikan nasnya, kemudian dharirnya dan baru mafhumnya.
b. Sesudah itu beralih pada Hadist yang dianggap shahih. Dalam hal ini beliau berpegang pada ahli-ahli Hadist terkemuka dari Madinah/Hijaz. Beliau menaruh perhatian yang sangat besar terhadap sesuatu yang telah berlaku di kalangan ulama Madinah, bahkan mendahulukannnya dari pada Hadist Ahad. Alasannya ialah bahwa mengikuti amal angkatan yang mendahuluinya dimana mereka itu mengikuti amal para sahabat adalah lebih kuat daripada Hadist Ahad. Pendapat ini tidak disetujui oleh banyak ahli ilmu, termasuk Al Laits bin Sa’id, Asy Syafi’i dan Abu Yusuf.
c. Ijma’.
d. Qiyas.
Beliau menggunakan qiyas apabila tidak ada Alqur’an, Hadist dan Ijma’. Dalam hal ini, kalau Imam Abu Hanifah terkenal istihsannya, maka Imam Malik terkenal dengan maslahatul mursalahnya atau yang sering disebut dengan istishlah. Menetapkan hukum berdasar mursalah adalah penetapan hukum yang berpedoman pada kaidah-kaidah umum untuk memperoleh manfaat yang dikehendaki/dituju oleh syara’. Maslahatul mursalah ini baru dapat diterapkan oleh Imam Malik apabila memenuhi syarat sbb:
1. Tidak bertentangan dengan nash atau dalil yang lain.
2. Dapat menarik manfaat dan menolak madlarat.
3. Tidak dalam soal ibadah.
Wassalamualaikum wr.wb
Silahkan Kunjungi Artikel Tentang Kisah IMAM MALIK sebagai penyusun pertama Kitab Hadist al Muawaththa, Semoga Bermanfaat ...
Kunjungi terus Website InfoUhuy.blogspot.com - Gudang Informasi Terkini Tentang Religi Islami.
