Menentukan Pilihan Lewat Mimpi
Assalamualaikum wr.wb
Banyak orang yang belum tahu apa sebenarnya arti dari mimpi itu sendiri ? Nah, untuk memahami apa itu mimpi, kita akan belajar dari mimpi para Hamba Allah .
Kisah nyata perjalanan spiritual seorang hamba Allah sengaja dikemukakan di sini. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa Allah itu memang ada dan mampu menggerakan apa saja bila ia menghendaki. Inipun terjadi apabila sang hamba menentukan pilihan, meski pilihan itu bisa jadi hanya berawal dari obsesi mimpi. Subhanallah.
Dua puluh tahun silam aku bermimpi thawaf, mengelilingi Ka’bah, sebagai salah satu rangkaian haji. Padahal ketika itu, belum ada sedikitpun dibenakku untuk berniat haji. Namun, perjalanan masa setelah aku berkeluarga, keinginanku untuk berhaji sangat kuat, keinginanku intuk berhaji sangat kuat, seakan mimpi itu selalu menggodaku dalam hidup keseharian. Sementara biaya keberangkatan ke sana amat berat.
Dari sini aku tentukan pilihan, “Aku harus menunaikan rukun Islam ke lima, dan ini menjadi alamat (tanda) yang suatu saat insya Allah akan terwujud”. Ternyata , bulan jini 2003 yang lalu mimipi itu dan pilihanku memjadi kenyataan. Aku diberangkatkan umrah melalui wasilah seorang hamba Allah. Thawaf-pun aku lakukan. Ku baca do’a di awal memandang Ka’bah dengan iringan tetesan air mata gembira sebagai rasa syukurku kepada Yang Maha Kuasa, Allah swt.
Sepulangnya umrah, pada malam berikutnya, yakni Ahad malam, ia bermimpi menunaikan ibadah haji bersama ayahnya yang tunanetra. Dalam mimpinya itu ia berthawaf dengan menuntun tangan ayahnya dimana dengan mudahnya, keduanya dapat mendekati dan mencium hajar aswad di tengah-tengah kerumunan banyak orang yang saling berdesakan. Kisah mimpi inipun menjadi kenyataan dan terjadi pada 1424H/2004M. Seminggu setelah pengalaman mimpi kedua kalinya ini, Ia dan ayahnya dapat berhaji dari wasiat seorang hamba Allah lainnya yang menanggung ongkos naik haji.
Kisah ini terjadi sekali lagi bukan tanpa pilihan. Sang hamba selalu berdo’a dan berusaha agar ia dapat mengiringi perjalanan ayahnya berhaji. Demikianlah hari-harinya terobsesi seperti itu. Ini dapat dikatakan sebagai pilihan utama dalam menghiasi rangkaian hidupnya. Uncak do’anya, ini ia keluhkan kepada Sang Pencipta (Al-Khalik), di Multazam (di depan Ka’bah) dan Raudhah (tempat khusus di Masjid Nabawi Madinah).
Dari kisah mimpi seorang hamba ini, ia berkesimpulan bahwa rasanya falsafah perjalanan hidup baginya bagaikan antara mimpiu ke mimpi. Kapankan kita tidak bermimpi lagi ? Insya Allah nanti setelah pintu kematian dialami setiap orang, pertanda kiamat telah datang. Karena itu, hari ini seakan kita bermimpi. Maka, mari kita hiasi mimpi dengan mimpi-mimpi indah. Kita iringi tidur dengan do’a agar teman tidur kita malaikat bukan iblis atau syetan. Semoga tidur kita bernilai ibadah hingga kita dapat memetik buah tidur kita pada saat kematian menjelang nanti.
Pertanyaan yang muncul sekarang adalah mengapa hidup kita ini laksana mimpi ? jawabnya adalah bahwa ada pada sebagian kita, peristiwa-peristiwa hidup yang terjadi, sebelumnya diawali dari kisah mimpi. Karena itu, mari kita dekatkan diri kepada Allah Rabul’Alamin (Maha Guru Alam Raya), Allah Rabbunnas (Maha Guru Manusia).
Wassalamualaikum wr.wb
Assalamualaikum wr.wb
Banyak orang yang belum tahu apa sebenarnya arti dari mimpi itu sendiri ? Nah, untuk memahami apa itu mimpi, kita akan belajar dari mimpi para Hamba Allah .
Kisah nyata perjalanan spiritual seorang hamba Allah sengaja dikemukakan di sini. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa Allah itu memang ada dan mampu menggerakan apa saja bila ia menghendaki. Inipun terjadi apabila sang hamba menentukan pilihan, meski pilihan itu bisa jadi hanya berawal dari obsesi mimpi. Subhanallah.
Dua puluh tahun silam aku bermimpi thawaf, mengelilingi Ka’bah, sebagai salah satu rangkaian haji. Padahal ketika itu, belum ada sedikitpun dibenakku untuk berniat haji. Namun, perjalanan masa setelah aku berkeluarga, keinginanku untuk berhaji sangat kuat, keinginanku intuk berhaji sangat kuat, seakan mimpi itu selalu menggodaku dalam hidup keseharian. Sementara biaya keberangkatan ke sana amat berat.
Dari sini aku tentukan pilihan, “Aku harus menunaikan rukun Islam ke lima, dan ini menjadi alamat (tanda) yang suatu saat insya Allah akan terwujud”. Ternyata , bulan jini 2003 yang lalu mimipi itu dan pilihanku memjadi kenyataan. Aku diberangkatkan umrah melalui wasilah seorang hamba Allah. Thawaf-pun aku lakukan. Ku baca do’a di awal memandang Ka’bah dengan iringan tetesan air mata gembira sebagai rasa syukurku kepada Yang Maha Kuasa, Allah swt.
Sepulangnya umrah, pada malam berikutnya, yakni Ahad malam, ia bermimpi menunaikan ibadah haji bersama ayahnya yang tunanetra. Dalam mimpinya itu ia berthawaf dengan menuntun tangan ayahnya dimana dengan mudahnya, keduanya dapat mendekati dan mencium hajar aswad di tengah-tengah kerumunan banyak orang yang saling berdesakan. Kisah mimpi inipun menjadi kenyataan dan terjadi pada 1424H/2004M. Seminggu setelah pengalaman mimpi kedua kalinya ini, Ia dan ayahnya dapat berhaji dari wasiat seorang hamba Allah lainnya yang menanggung ongkos naik haji.
Kisah ini terjadi sekali lagi bukan tanpa pilihan. Sang hamba selalu berdo’a dan berusaha agar ia dapat mengiringi perjalanan ayahnya berhaji. Demikianlah hari-harinya terobsesi seperti itu. Ini dapat dikatakan sebagai pilihan utama dalam menghiasi rangkaian hidupnya. Uncak do’anya, ini ia keluhkan kepada Sang Pencipta (Al-Khalik), di Multazam (di depan Ka’bah) dan Raudhah (tempat khusus di Masjid Nabawi Madinah).
Dari kisah mimpi seorang hamba ini, ia berkesimpulan bahwa rasanya falsafah perjalanan hidup baginya bagaikan antara mimpiu ke mimpi. Kapankan kita tidak bermimpi lagi ? Insya Allah nanti setelah pintu kematian dialami setiap orang, pertanda kiamat telah datang. Karena itu, hari ini seakan kita bermimpi. Maka, mari kita hiasi mimpi dengan mimpi-mimpi indah. Kita iringi tidur dengan do’a agar teman tidur kita malaikat bukan iblis atau syetan. Semoga tidur kita bernilai ibadah hingga kita dapat memetik buah tidur kita pada saat kematian menjelang nanti.
Pertanyaan yang muncul sekarang adalah mengapa hidup kita ini laksana mimpi ? jawabnya adalah bahwa ada pada sebagian kita, peristiwa-peristiwa hidup yang terjadi, sebelumnya diawali dari kisah mimpi. Karena itu, mari kita dekatkan diri kepada Allah Rabul’Alamin (Maha Guru Alam Raya), Allah Rabbunnas (Maha Guru Manusia).
Wassalamualaikum wr.wb
Silahkan Kunjungi Artikel Tentang Petunjuk Allah swt Melalui Mimpi Para Nabi Allah, Semoga Bermanfaat ...
Kunjungi terus Website InfoUhuy.blogspot.com - Gudang Informasi Terkini Tentang Religi Islami ..
Kunjungi terus Website InfoUhuy.blogspot.com - Gudang Informasi Terkini Tentang Religi Islami ..
