Macam-macam Tauhid dan Pengertiannya
Assalamualaikum wr.wb
Alhamdulillah Kali ini saya akan menjelaskan artikel tentang Macam-macam Tauhid dan Pengertiannya. Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yaitu Memahami Makna Hakikat Tauhid. Mudah-mudahan setelah membaca artiel ini Anda semakin paham betul tetang hakikat tauhid. Langsung aja masuk ke penjelasan artikel ini.
Dalam pandangan syar’i, tauhid rububiyah yaitu keyakinan yang pasti bahwa Allah adalah Tuhan segala sesuatu. Syakhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam ‘Al-Fatawa’ menyatakan, tauhid rububiyahberarti tidak ada pencipta, kecuali Allah. Ali bin Muhammad bin Abu Al-‘Iz Al-Hanafi Ad Dimasyqi, seorang pensyarah kitab ‘Ath-Thahawiyah mengartikannya sebagai pengakuan bahwa Allah merupakan pencipta segala sesuatu. Tauhid ini adalah Haq, tidak ada keraguan didalamnya dan hal ini merupakan tujuan bagi sebagian besar kelompok rasionalis, kalam maupun kaum sufi. Dalam bahasa sederhana, tauhid ini harus benar-benar tertanam di hati setiap orang, karena tauhid semacam ini merupakan dasar bagi macam-macam tauhid lainnya, karena Dia-lah Yang Maha Segalanya.
Makna sesungguhnya adalah menolak persekutuan terhadap Allah dalam sifat-sifat kerububiyahan-Nya dan meyakini bahwa Dia adalah pencipta alam semesta ini, seperti firman-Nya: “Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidakm ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (QS. Al-Furqaan: 2).
Ketika manusia terjarumus dalam kesyirikan dengan menyembah berhala dalam sejarah umat terdahulu, Allah mengutus para Rasul-Nya untuk meluruskan kaum mereka agar mau menyembah Allah sebagai satu-satu Dzat yang patut diagungkan. Ajakan ini tentu saja mengacu pada tauhid rububiyah. Gambar ini terlukis dalam surat An-Nahl ayat 36: “Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’, maka diantara umat itu ada orang-orang yang di beri petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka bejalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.
Adapun dalil atas wajibnya tauhid rububiyah dijelaskan surat Fushshilat ayat 53: “ Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”
Tauhid uluhiyah yaitu tauhid ibadah atau tauhid tujuan dan permintaan. Artinya umat Islam hanya mengkhususkan ibadah kepada Allah dalam berbagai macam ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, berkurban, bernazar, takut, harapan, tawakkal, do’a, dan ibadah lainnya. Tujuan ibadah adalah agar diterima oleh yang disembah, yaitu Allah, sehingga orang yang menyembah akan mendapatkan ganjaran dan pahala dari ibadahnya. Agar ibadahnya diterima, maka setiap ibadah atau amal yang dilakukan seseorang harus memenuhi dua syarat utama, yaitu mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah dan hanya mengikuti Rasulullah saw. itulah sesungguhnya makna kalimat tauhid laa ilaaha illallah, muhammadun rasulullah.
Tauhid jenis inilah yang karenanya para rasul diutus, kitab-kitab diturunkan dan manusia dibedakan menjadi orang-orang mukmin dan orang kafir. Pada tauhid uluhiyah terkandung di dalanya tauhid rububiyah, karena siapa yang menyembah Allah semata dan tidak menyekuukan-Nya dengan sesuatu, pasti terbetik di dalam dirinya bahwa dia menyembah Tuhannya yang menciptakannya dari ketiadaan. Selain itu tauhid uluhiyah juga mencakup tauhid asma ‘ dan sifat, karena sipa yang mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah, pasti mengakui nama-nama dan sifat-sifat Allah yang ditetapkan kepada diri-Nya dan ditetapkan oleh rasul-Nya sendiri dan ditetapkan oleh rasul-Nya tanpa mengubah maupun membantah.
Tidak sempurna tauhid seseorang, kecuali dengan meyakini tauhid yang satu ini, yakni mengesakan Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Nama-nama baik yang dimaksud terkumpul dalam asmaul husna yang berjumlah sembilan puluh sembilan. Sementara sifat-sifat tersebut terbagi dua, yakni sifat-sifat dzatiyah dan sifat-sifat fi’liyah.
Sifat-sifat Dzatiyah merupakan sifat-sifat yang berkaitan dengan dzat Allah dan tidak berkaitan dengan kehendak maupun pilihan, tetapi tidak bisa dipisahkan dari-Nya. Sedang sifat-sifat fi’liyah adalah sifat-sifat Allah yang berkaitan dengan kehendak-Nya, yang mana jika Allah berkehendak akan melaksanakannya dan jika tidak berkehendak akan meninggalkan-Nya. Para ahli tashawuf berpendapat, Allah disifati dengan sifat yang ada pada diri-Nya, Dia kekal dengan sifat-sifat dan nama-nama-Nya dan Dia tidak menyerupai makhluk yang diciptakan-Nya dari segala segi.
Pensyarah kitab ‘At-Tauhid’, Syaikh Sulaiman bin Abdullah dalam ‘Taisir Al-‘Aziz’ berkata, ketiga macam tauhid di atas saling berkaitan. Setiap macxamnya tidak terpisah dari yang lain. Barang siapa yang hanya menyebutkan salah satu saja tanpa menyebutkan yang lain, berarti dia belum mengetahuinya secara sempurna seperti yang diharapkan.
“Agar ibadahnya diterima, maka setiap ibadah atau amal yang dilakukan seseorang harus memenuhi dua syarat utama, yaitu mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah dan hanya mengikuti Rasulillah saw. itulah sesungguhnya makna kalimat tauhid laa ilaaha illallah, muhammadun rasulullah”.
Wassalamualaikum wr.wb
Assalamualaikum wr.wb
Alhamdulillah Kali ini saya akan menjelaskan artikel tentang Macam-macam Tauhid dan Pengertiannya. Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yaitu Memahami Makna Hakikat Tauhid. Mudah-mudahan setelah membaca artiel ini Anda semakin paham betul tetang hakikat tauhid. Langsung aja masuk ke penjelasan artikel ini.
Dalam pandangan syar’i, tauhid rububiyah yaitu keyakinan yang pasti bahwa Allah adalah Tuhan segala sesuatu. Syakhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam ‘Al-Fatawa’ menyatakan, tauhid rububiyahberarti tidak ada pencipta, kecuali Allah. Ali bin Muhammad bin Abu Al-‘Iz Al-Hanafi Ad Dimasyqi, seorang pensyarah kitab ‘Ath-Thahawiyah mengartikannya sebagai pengakuan bahwa Allah merupakan pencipta segala sesuatu. Tauhid ini adalah Haq, tidak ada keraguan didalamnya dan hal ini merupakan tujuan bagi sebagian besar kelompok rasionalis, kalam maupun kaum sufi. Dalam bahasa sederhana, tauhid ini harus benar-benar tertanam di hati setiap orang, karena tauhid semacam ini merupakan dasar bagi macam-macam tauhid lainnya, karena Dia-lah Yang Maha Segalanya.
Makna sesungguhnya adalah menolak persekutuan terhadap Allah dalam sifat-sifat kerububiyahan-Nya dan meyakini bahwa Dia adalah pencipta alam semesta ini, seperti firman-Nya: “Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidakm ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (QS. Al-Furqaan: 2).
Ketika manusia terjarumus dalam kesyirikan dengan menyembah berhala dalam sejarah umat terdahulu, Allah mengutus para Rasul-Nya untuk meluruskan kaum mereka agar mau menyembah Allah sebagai satu-satu Dzat yang patut diagungkan. Ajakan ini tentu saja mengacu pada tauhid rububiyah. Gambar ini terlukis dalam surat An-Nahl ayat 36: “Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’, maka diantara umat itu ada orang-orang yang di beri petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka bejalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.
Adapun dalil atas wajibnya tauhid rububiyah dijelaskan surat Fushshilat ayat 53: “ Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”
Tauhid uluhiyah yaitu tauhid ibadah atau tauhid tujuan dan permintaan. Artinya umat Islam hanya mengkhususkan ibadah kepada Allah dalam berbagai macam ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, berkurban, bernazar, takut, harapan, tawakkal, do’a, dan ibadah lainnya. Tujuan ibadah adalah agar diterima oleh yang disembah, yaitu Allah, sehingga orang yang menyembah akan mendapatkan ganjaran dan pahala dari ibadahnya. Agar ibadahnya diterima, maka setiap ibadah atau amal yang dilakukan seseorang harus memenuhi dua syarat utama, yaitu mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah dan hanya mengikuti Rasulullah saw. itulah sesungguhnya makna kalimat tauhid laa ilaaha illallah, muhammadun rasulullah.
Tauhid jenis inilah yang karenanya para rasul diutus, kitab-kitab diturunkan dan manusia dibedakan menjadi orang-orang mukmin dan orang kafir. Pada tauhid uluhiyah terkandung di dalanya tauhid rububiyah, karena siapa yang menyembah Allah semata dan tidak menyekuukan-Nya dengan sesuatu, pasti terbetik di dalam dirinya bahwa dia menyembah Tuhannya yang menciptakannya dari ketiadaan. Selain itu tauhid uluhiyah juga mencakup tauhid asma ‘ dan sifat, karena sipa yang mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah, pasti mengakui nama-nama dan sifat-sifat Allah yang ditetapkan kepada diri-Nya dan ditetapkan oleh rasul-Nya sendiri dan ditetapkan oleh rasul-Nya tanpa mengubah maupun membantah.
Tidak sempurna tauhid seseorang, kecuali dengan meyakini tauhid yang satu ini, yakni mengesakan Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Nama-nama baik yang dimaksud terkumpul dalam asmaul husna yang berjumlah sembilan puluh sembilan. Sementara sifat-sifat tersebut terbagi dua, yakni sifat-sifat dzatiyah dan sifat-sifat fi’liyah.
Sifat-sifat Dzatiyah merupakan sifat-sifat yang berkaitan dengan dzat Allah dan tidak berkaitan dengan kehendak maupun pilihan, tetapi tidak bisa dipisahkan dari-Nya. Sedang sifat-sifat fi’liyah adalah sifat-sifat Allah yang berkaitan dengan kehendak-Nya, yang mana jika Allah berkehendak akan melaksanakannya dan jika tidak berkehendak akan meninggalkan-Nya. Para ahli tashawuf berpendapat, Allah disifati dengan sifat yang ada pada diri-Nya, Dia kekal dengan sifat-sifat dan nama-nama-Nya dan Dia tidak menyerupai makhluk yang diciptakan-Nya dari segala segi.
Pensyarah kitab ‘At-Tauhid’, Syaikh Sulaiman bin Abdullah dalam ‘Taisir Al-‘Aziz’ berkata, ketiga macam tauhid di atas saling berkaitan. Setiap macxamnya tidak terpisah dari yang lain. Barang siapa yang hanya menyebutkan salah satu saja tanpa menyebutkan yang lain, berarti dia belum mengetahuinya secara sempurna seperti yang diharapkan.
“Agar ibadahnya diterima, maka setiap ibadah atau amal yang dilakukan seseorang harus memenuhi dua syarat utama, yaitu mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah dan hanya mengikuti Rasulillah saw. itulah sesungguhnya makna kalimat tauhid laa ilaaha illallah, muhammadun rasulullah”.
Wassalamualaikum wr.wb
Silahkan Kunjungi Artikel Tentang Memahami Makna Hakikat Tauhid, Semoga Bermanfaat ...
Kunjungi terus Website InfoUhuy.blogspot.com - Gudang Informasi Terkini Tentang Religi Islami.
